Simbol Hidup Akulturasi dan Modernitas di Masjid Babah Alun

Jakarta adalah kota yang dibangun dari ribuan cerita, di mana karakter setiap sudutnya terbentuk dari beragam pertemuan budaya selama berabad-abad. Salah satu bukti nyata dari pertemuan tersebut berdiri megah di pinggir jalan tol Depok-Antasari (Desari), Jakarta Selatan. Masjid Babah Alun bukan sekadar rumah ibadah; ia adalah pernyataan visual tentang harmoni antara etnis Tionghoa, tradisi Arab, dan identitas Indonesia. Didirikan oleh pengusaha Muslim keturunan Tionghoa, Mohammad Jusuf Hamka, masjid ini menjadi oase keberagaman yang mencolok di tengah padatnya arus transportasi ibu kota.

Arsitektur luar Masjid Babah Alun Desari Jakarta Selatan yang menyerupai klenteng Tionghoa dengan dominasi warna merah
Harmoni dalam paduan warna merah, kuning, dan hijau di tepi jalan tol. (Dok. Arsip LETTI)

Secara arsitektural, Masjid Babah Alun mematahkan stigma bahwa rumah ibadah harus terpaku pada satu gaya desain tertentu. Dominasi warna merah yang melambangkan keberuntungan dalam kultur Tionghoa, dipadukan dengan sentuhan kuning emas dan hijau yang identik dengan nafas keislaman, menciptakan gradasi visual yang unik. Struktur bangunannya menyerupai klenteng dengan atap melengkung khas oriental, namun tetap menjaga fungsi utamanya melalui kehadiran kaligrafi Arab yang estetik di bagian interior. Fenomena ini menunjukkan bahwa identitas spiritual dapat tumbuh subur tanpa harus menanggalkan akar budaya asal, menciptakan sebuah ruang publik yang inklusif dan penuh toleransi.

Kehadiran masjid ini juga membawa pengaruh sosial yang signifikan bagi masyarakat sekitar dan para pengguna jalan tol. Sebagai “Masjid Pinggir Tol”, Babah Alun tidak hanya melayani kebutuhan ibadah shalat, tetapi juga menjadi destinasi wisata religi yang edukatif. Masyarakat yang berkunjung sering kali terkesan dengan keterbukaan atmosfernya, di mana nilai-nama luhur seperti kedermawanan dan persaudaraan antar-etnis dipraktikkan secara nyata. Masjid Babah Alun membuktikan bahwa arsitektur dapat menjadi bahasa universal untuk menceritakan sejarah sosial sebuah bangsa yang majemuk.

Berikut adalah aspek-aspek mendalam yang membentuk keunikan Masjid Babah Alun sebagai landmark akulturasi:

1. Estetika Tionghoa yang Dominan

Penggunaan ornamen seperti lampion, pilar-pilar merah besar, dan ukiran khas Tiongkok memberikan karakter kuat pada bangunan ini. Desain ini merupakan penghormatan terhadap latar belakang etnis pendirinya sekaligus bentuk dakwah visual yang menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang merangkul seluruh suku bangsa (Rahmatan lil ‘Alamin).

Detail ornamen di teras Masjid Babah Alun sebagai simbol akulturasi Tionghoa
Detail oriental yang merangkul keberagaman. (Dok. Arsip LETTI)

2. Sentuhan Kaligrafi Arab dan Ornamen Islam

Meskipun fasad luar tampak seperti bangunan oriental, bagian dalam masjid tetap mengedepankan nilai-nilai Islam klasik. Kaligrafi Arab yang ditulis dengan gaya khat tertentu menghiasi langit-langit dan dinding mihrab, memberikan suasana khusyuk yang kontras dengan tampilan eksterior yang meriah.

3. Material dan Adaptasi Lokal Indonesia

Konstruksi masjid tetap memperhatikan konteks lingkungan Indonesia dengan penggunaan material yang tahan terhadap iklim tropis. Penempatan ruang terbuka dan sirkulasi udara yang baik memastikan jamaah tetap nyaman meskipun bangunan ini berada di area terbuka.

4. Filosofi Warna dan Keberuntungan

Warna merah, kuning, dan hijau bukan dipilih tanpa alasan; dalam tradisi Tionghoa, merah dan kuning melambangkan kebahagiaan dan semangat, sementara dalam Islam, hijau melambangkan kedamaian. Pertemuan warna-warna ini di Masjid Babah Alun menciptakan simbolisme baru tentang “kebahagiaan dalam kedamaian beragama”.

Seorang pria mengenakan kemeja biru muda, celana khaki beige, dan topi flat cap berdiri di pelataran teras dengan pilar-pilar merah besar bergaya arsitektur Tionghoa oriental Masjid Babah Alun
Berdiri tenang di antara pilar akulturasi dan modernitas Masjid Babah Alun. (Dok. Arsip LETTI)

Jembatan Budaya di Tepi Perjalanan

Masjid Babah Alun berdiri sebagai pengingat bahwa Jakarta adalah ruang pertemuan bagi siapa saja yang ingin berkontribusi pada cerita kota. Keberadaannya di tepi jalan tol yang sibuk seolah menjadi ajakan bagi setiap pelintas untuk sejenak berhenti dan merenungkan indahnya perbedaan. Di tengah arus modernisasi yang sering menyeragamkan segalanya, masjid ini konsisten menjaga warna-warni akulturasi tetap hidup dan relevan.

Seorang pria berkacamata dengan kemeja kerah reguler LETTI Dante putih, dasi merah, dan jas hitam, berdiri di depan pintu kayu melingkar yang dihiasi ornamen gaya Tionghoa oriental Masjid Babah Alun Desari
Manifestasi keharmonisan dan nilai toleransi yang terjaga dalam lintasan perjalanan di Masjid Babah Alun. (Dok. Arsip LETTI)

Masjid Babah Alun adalah potret sempurna dari perjalanan panjang sejarah Muslim keturunan Tionghoa di Indonesia. Melalui perpaduan gaya Tionghoa, Arab, dan Indonesia, masjid ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga kedalaman makna tentang toleransi. Menjadi salah satu landmark unik di Jakarta, Babah Alun menceritakan karakter kota inklusif, di mana beragam pertemuan budaya bersatu membentuk identitas harmonis dan timeless. [edt/LETTI]

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart

No products in the cart.