Menelusuri Jejak Budaya Pekojan: Jantung Sejarah Multikultural di Jakarta Barat

Jakarta Barat tidak hanya soal gedung modern dan pusat perbelanjaan. Di balik hiruk-pikuk Tambora, terdapat sebuah kawasan yang seolah menghentikan waktu: Cagar Budaya Pekojan. Dikenal sebagai salah satu pemukiman tertua di Jakarta, Pekojan menyimpan narasi panjang tentang migrasi, penyebaran agama, dan akulturasi budaya yang membentuk wajah ibu kota.

tim-sudut-kota-di-tempat-ibadah-bersejarah-Pekojan.jpg
Tim Sudut Kota LETTI saat di Kampung Pekojan, Jakarta Barat (Dok. Arsip LETTI)

Asal-Usul Nama Pekojan: Dari Gujarat hingga Hadramaut

Banyak yang mengira Pekojan sejak awal adalah pemukiman bangsa Arab. Namun, secara historis, nama Pekojan berasal dari kata “Koja”, sebutan untuk para pedagang Muslim yang sebenarnya dari Gujarat, India. Pekojan menjadi permukiman bersejarah di Tambora, Jakarta Barat, yang dikenal sebagai salah satu kampung Muslim pertama dan tertua di Batavia.

masjid-langgar-tinggi-tempat-ibadah-bersejarah-di-Pekojan
Salah satu tempat ibadah bersejarah di area Cagar Budaya Pekojan, Jakarta Barat (Dok. Arsip LETTI)

Pada abad ke-17, pemerintah kolonial Belanda menetapkan kawasan ini sebagai tempat bermukimnya etnis India melalui sistem Wijkenstelsel. Baru pada abad ke-18, gelombang migrasi besar dari Hadramaut, Yaman, mulai mendominasi kawasan ini, menjadikannya “Kampung Arab” tertua di Jakarta.

Mengapa Pekojan Menjadi Penting?

Menetapkan Pekojan sebagai kawasan cagar budaya adalah penghormatan terhadap multikulturalisme. Di sini, etnis Arab, India, Tionghoa, dan Melayu hidup berdampingan secara harmonis selama berabad-abad. Pekojan ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya oleh Pemerintah DKI Jakarta karena perannya sebagai:

  1. Pusat penyebaran agama Islam di Jakarta
  2. Pusat pendidikan agama (banyak ulama besar lahir atau mengajar di sini)
  3. Bukti sejarah multikulturalisme Jakarta, di mana etnis Arab, India, Tionghoa, dan Melayu hidup berdampingan.
Sudut-pekojan-tempat-estetik-autentik
Salah satu sudut di Kampung Pekojan dengan estetika yang autentik (Dok. Arsip LETTI)

Bagi pecinta sejarah dan gaya hidup, Pekojan menawarkan estetika yang autentik. Menghargai sejarahnya sama seperti kita menghargai sehelai pakaian berkualitas; keduanya membutuhkan ketelitian, material yang kokoh, dan nilai yang timeless.

Saksi Bisu Arsitektur: Masjid-Masjid Ikonik Pekojan

Keunikan Pekojan terletak pada bangunannya yang mencerminkan perpaduan gaya Moor, Eropa, dan Tionghoa. Berikut adalah tiga poros utama cagar budaya di sana:

  1. Masjid Jami An-Nawier (1760) 

Masjid ini memiliki pilar-pilar besar bergaya Neoklasik Eropa, namun tetap kental dengan atmosfer religius Timur Tengah. Sebuah simbol kemegahan sejarah Islam di Batavia.

  1. Masjid Al-Anshor (1648)

Sebagai masjid tertua di Jakarta yang didirikan oleh warga Gujarat, kesederhanaan bangunannya menjadi pengingat awal mula dakwah Islam di tanah Betawi.

  1. Masjid Langgar Tinggi (1829)

Terletak di pinggir Kali Angke dengan struktur dua lantai, mencerminkan fungsionalitas bangunan dermaga dan hunian di masa lalu.

talent-pria-berdiri-dekat-Masjid-Langgar-Tinggi-Pekojan
Tampak sisi luar Masjid Langgar Tinggi di Pekojan, Jakarta Barat (Dok. Arsip LETTI)

Eksplorasi Nyaman Menyusuri Lorong Waktu

Pekojan yang dikenal sebagai “Kampung Arab” tertua di Jakarta secara historis memiliki tradisi berdagang yang kuat, terutama komoditas yang didatangkan melalui jalur perdagangan laut, termasuk rempah-rempah dan bahan-bahan obat tradisional atau herbal. Melakukan walking tour di Pekojan berarti siap menyusuri gang-gang sempit dan area terbuka yang cukup lembab. Oleh karena itu, pemilihan pakaian menjadi kunci utama agar pengalaman sejarah Anda tidak terganggu oleh rasa gerah.

Eksplorasi-kampung-pejokan-jakarta-barat
Eksplorasi di salah satu tempat perbelanjaan di Kampung Pekojan, Jakarta Barat (Dok. Arsip LETTI)

Koleksi LETTI Indonesia sangat direkomendasikan untuk aktivitas ini. Menggunakan material katun premium dengan sirkulasi udara maksimal, pakaian LETTI memastikan Anda tetap sejuk meski berada di bawah terik matahari Jakarta Barat. Karakter kainnya yang lembut dan breathable menjaga tubuh tetap kering, sehingga Anda bisa fokus mengagumi detail arsitektur tanpa rasa tidak nyaman pada kulit.

Saran Berkunjung

  • Berpakaian Sopan: Mengingat banyaknya tempat ibadah bersejarah, gunakan pakaian yang tertutup namun tetap sejuk (breathable). Gunakan koleksi modest wear LETTI yang clean dan sopan untuk menghormati area tempat ibadah.
  • Waktu Terbaik: Pagi hari sebelum terik matahari sekitar pukul 08.00 WIB untuk mendapatkan pencahayaan terbaik dan tidak terlalu menyengat, atau sore hari untuk mendapatkan natural-lighting hangat di area Kali Angke.
  • Alas Kaki: Gunakan sepatu jalan yang nyaman dan ringan karena Anda akan banyak melangkah di permukaan aspal dan paving block.

Cagar Budaya Pekojan adalah bukti bahwa identitas Jakarta dibangun oleh keberagaman. Mengenal sejarahnya membuat kita lebih menghargai proses panjang sebuah peradaban, sama seperti cara menghargai proses pembuatan sehelai pakaian yang dibuat dengan perhatian sepenuh hati. [edt/LETTI]

Start typing and press Enter to search

Shopping Cart

No products in the cart.